SLIDER

WELCOME

Hi fellas! My name is Justin Larissa and welcome to my online home where you can see how I Travel and Enjoy Everything! Lets pull up a bear, have a cup of Thai Tea, make yourself comfortable and enjoy my blog.

JOIN THE NEWSLETTER

Tentang Rasa Bosan di Interlaken

Hari itu angin berhembus sejuk dan matahari tampak lebih bundar dibandingkan hari-hari kemarin. Mendung pergi, burung-burung piknik keluar sarang ikut merayakan selesainya perbaikan salah satu sisi jalan kota Interlaken. "Orang sini suka sekali festival," kata Johanna, adik grosmami—ya bisa dibilang juga dia eyang kami from far far far away, tentang Strassen Fest. "Apalagi jalanan di sini sering rusak, jadi setiap ada proyek selesai, mereka akan merayakannya dengan membuat festival seperti ini." Jadi bukan hanya Bekasi yang jelek jalannya, Interlaken juga jek wkwk.

Interlaken adalah kota mungil yang sederhana, yang begitu beruntung bisa berada di antara dua danau besar, Brienz dan Thun, juga di kaki The Bernese Alps with three beautifully seen peaks: Eiger, Mönch, and Jungfrau. Saya menempuh jalur danau untuk menuju ke sini. Cruising from Thun, mampir ke beberapa kota kecil seperti Einigen, Spiez, Faulensee, Merligen, dan Neuhaus, lalu menepi di Interlaken West. Jika tidak suka naik kapal, kamu bisa naik kereta yang selain harganya lebih murah, pemandangannya pun tak kalah indah. Monmaap tidak ada moda yang lebih gembel lagi, jadi banyak-banyak lah menabung.

Apakah kalian sudah bisa menebak cerita perjalanan ini? Pasti sudah, cerita tentang Swiss selalu mudah ditebak. Tapi saya kasih tempe ya wahai umat pembaca setiaqu, cerita ini bukan cerita membosankan tentang menikmati kota kecil nan indah, ada gunung salju di satu sisi dan lintasan biru terang Sungai Aare di sisi lainnya, makan raclette sandwich endulita, lihat festival dan cowok ganteng, lalu naik ke Harder Kulm untuk menikmati puncak tertinggi Interlaken. Bukan. Nein nein nein. Ini justru tentang rasa bosan itu sendiri. Bosan di Interlaken!? Sebelum you you mengerenyitkan dahi, silahkan baca dulu.

Kota Interlaken di pinggir Sungai Aare
Kota Interlaken di pinggir Sungai Aare

Top of Interlaken

Setelah euforia dapat hadiah-hadiah lucu di Strassen Fest, kami berjalan menuju stasiun funicular—kereta yang digerakkan oleh kabel—untuk naik ke Harder Klum, The Top of Interlaken. Antrean menuju loket funicular lumayan mengular dan karena jalur antrenya terbuka, kami benar-benar terpanggang apalagi kebanyakan adalah turis yang pas di loket tiket, buka sesi tanya-jawab dulu. Rasanya jika lebih lama di sana setengah jam lagi saja, kayaknya kami akan smell like prawns that were abandoned in the alleyways six months ago (Londoners must know wkwk).

Baca juga dong: London First Timer

Ada dua cara menuju Harder Kulm: naik funicular atau trekking, dan pilihan tersebut tidak bisa dikombinasi karena funicular hanya punya dua stasiun yaitu keberangkatan dan kedatangan, no mampir-mampir apalagi mengangkut mereka yang memilih trekking lalu mengais-ngais tumpangan karena terseok-seok. Jadi bijaklah dalam memilih jalan kehidupan, wahai adinda. Kalau kamu strong seperti ibu-ibu-berotot yang memilih jogging saat bayinya naik funicular bersama sang bapak, silahkan. Karena ketika kamu tidak kuat dan menyerah sebelum sampai puncak, well, it's very regrettable.

And what's more regrettable than you're not at the top of Interlaken? You're there, healthy, have time, but you feel empty. Saya di atas sana dan satu-satunya hal yang saya ingin lakukan adalah pergi dari sana. Eh gimana gimana?

Kota Interlaken terlihat dari Harder Kulm.
Kota Interlaken terlihat dari Harder Kulm. Seperti sosis ya, so nice~
Makan siang di Panorama Restaurant, Harder Kulm, sambil melihat The Mighty Trio
Makan siang di Panorama Restaurant, Harder Kulm, sambil melihat The Mighty Trio.
Harder Kulm
Dan bisa melihat puncak itu dari mana-mana, termasuk jendela stasiun akhir funicular.

Harder Kulm adalah satu dari beberapa pilihan tempat untuk menikmati The Bernese Alps dari ketinggian. Di sini kamu bisa lunch with a view di Panorama Restaurant, atau sekedar meneguk bir kalengan dingin dan ngemil chicken nugget. Karena saya pergi bersama keluarga yang baru saya temui pertama kali, saya harus tampak takjub dan senang bukan? Meski rasanya bosan setengah mati, tapi saya tak boleh mengecewakan mereka. Sudah dibayari, lalu tidak happy, kurang ajar sekali.

To be brief, Interlaken surely amazing. Bahkan ketika sampai di sini, saya merasa lega akhirnya melihat Swiss yang sebenarnya dengan gunung salju, air biru, dan bukit berlapis-lapis. Tapi saya benar-benar bosan. Sungguh bosan, suntuk, dan karena saya tidak punya ruang untuk melepas ini, rasanya ingin menangis hix hix. Gaswatnya lagi, grospapi sampai bilang ke saya, 'Lho Justin ngantuk ya?'

Top of The Problem

Jika saya tebak, alasan grospapi bilang begitu adalah karena wajah saya datar. Mimik wajah seperti itu muncul biasanya karena benar mengantuk, lapar, mikirin hutang, bosan, atau—dan akhirnya saya menyadari ini benar alasannya—karena saya sedang merasa kosong.

Kantong kosong, hati juga kosong. Syedih~

Berada di langit-langit Eropa melihat warna-warna alami nan menakjubkan seperti ini, rasanya aneh kenapa saya malah merasa ada yang tak beres. Saat itu, hal yang sangat tidak ingin saya lakukan adalah mengobrol dan ambil foto. Saya tidak ingin berinteraksi baik dengan Mas Gepeng, keluarga, maupun turis lainnya. Ambil foto pun akhirnya hanya bikin icemochy karena hasilnya tidak bisa sebagus apa yang saya lihat. Intinya saya hanya ingin go away and say what you say. Akhirnya setelah buang air kecil, saya pamit ke Mas Gepeng untuk jalan-jalan sendiri dengan meyakinkan bahwa saya tidak perlu dicari.


Saya kemudian berjalan agak mendaki ke sisi yang lebih tinggi, memasuki kawasan rimbun pepohonan yang lebih sepi dan tenang. Ada keluarga besar India piknik di salah satu sisi yang landai. Mereka membawa kain duduk, makanan dan minuman sendiri lalu dinikmati bersama-sama. Saya jadi ingat bahwa hal itu juga biasa saya lakukan bersama keluarga saya, dulu sekali saat mama saya masih giat membawa termos nasi dan sekeranjang buah-buahan ke hote.

Setelah lanjut berjalan, saya menyadari masuk hutan bukan lah pilihan yang tepat. Saya tak bawa garam untuk usir tuyul, tak bawa juga kompas dan pawang ular. Saya lalu kembali dan melihat bench kayu di sisi ujung tebing. Lalu saya duduk.

Saya hanya duduk menyandarkan punggung dan kaki yang lelah entah karena apa, padahal jalan juga seuprit. Kursinya terbuat dari batang kayu pohon yang sudah mati, yang kalau geser dikit nanti bajunya nyangkut-nyangkut. Meski begitu, rasanya itu adalah tempat yang saya butuhkan lebih dari apapun.

Saya bisa melihat semuanya di sini. Restoran bergaya castle, puncak gunung, Danau Brienz dan Thun, Interlaken, orang-orang yang antre foto, semuanya kelihatan termasuk bunga-bunga kuning kecil yang sebelumnya tak disadari dia ada di sepanjang jalan menuju Harder Kulm. Di sini pun angin berhembus lebih kencang, membuat poni-poni kecil di dalam jilbab saya berdiri sebentar dan wajah saya jadi dingin persis seperti habis fesyel.


Kota Interlaken dan Sungai Aare yang rapih seperti wafer.
Kota Interlaken dan Sungai Aare yang rapih seperti wafer.

Di saat seperti ini, tahu-tahu saya menyadari hal-hal receh yang tidak tahu ya mereka datang dari mana, misalnya kulit ayam sudah tak lagi di kategori save the best for the last, imunitas saya lebih baik ketika traveling, saya tak suka teh rasa berries, saya packing lebih rapih ketimbang Mas Gepeng (proven!), pertama kali makan radish and I hate it, bersyukur bahwa orang Swiss tak makan bawang goreng, dan sebagainya.

Penting atau tidak penting, hal-hal receh itu membuat saya mengenal diri sedikit lebih baik dan rasanya menyenangkan. I felt recharge. Apalagi saat dua orang sebelah saya pergi dan hanya ada saya di kursi jelek itu, saya lalu menaruh kedua tangan di sandaran kursi dan menghirup udara dalam-dalam sembari berkata, "Enak ya, udara bersihnya?" ke diri sendiri.

Tiga hari di Swiss, baru ini saya mempraktikan kenikmatan bernafas a la table pose dan mengamini memang udaranya berhasil membuat paru-paru saya seolah terlahir kembali. Aaaahh relaxaaa~

Top of the Magical Small Talk

Saya rasa mengajak bicara diri sendiri saat melakukan perjalanan adalah salah satu cara untuk menikmati perjalanan juga. Ternyata ya, bagaimana kita menikmati sekitar bisa berubah total apabila kita mencoba menggali apa yang kita rasakan lebih dalam lagi.

Awalnya saya kira Interlaken too perfect and it kinda bores me, terlalu bagus dan terlalu susah mencari cacatnya—jalan rusak pun tidak termasuk haha. Tapi sepertinya ini memang hanya saya, kangen dengan sahabat baiknya yang tak lain dan tak bukan, dirinya sendiri.

You can go somewhere far, really far to quench your thirst for adventure, to break  the records, to make memories, to experience new things, new cultures, and to add more value on your thoughts. Just don't forget to talk to yourself about the what(s), why(s), how(s), and I'm sure it will give you new perspectives other than what you felt before.

Papan arah di Harder Kulm, entah menuju ke mana wkwk.
Papan arah di Harder Kulm, entah menuju ke mana wkwk.

The last hours in Interlaken are the best time that day. Saya tak lagi merasa tersesat, merasa salah, merasa tidak nyaman, merasa seperti semua begitu buruk. Saya nyaman menikmati kesempurnaan Interlaken. Saya ngobrol-ngobrol lagi, bisa nge-jokes lagi, tertawa pada kerecehan, semangat foto, dan rasanya saya benar-benar tak mau pulang. Pas baru sampai rasanya ingin segera pergi, pas sudah enjoy malah mau di sini saja.

Lalu jadinya saya pulang atau tidak? Tentu tetap pulang karena grosmami bilang kita akan mampir ke rumah Tati, tante saya, dan makan malam fondue bersama di taman. Another 'too perfect' in Switzerland, huh?

3 comments

  1. ahhhh pemandangannyaaaaaa, aku suka warna turqoise sungainya :D.

    dipikir2, moment yg sampe aku bisa ngerasa bosen gitu, pas di manila sih.tp beda ama kamu yg ngerasa interlaken too perfect, kalo aku krn terlalu miriiip ama indonesia hahahaha.jd sumpah bosennya g ketulungan.. tp biar gimana, setidaknya kan udh melihat langsung dulu :D.jd tau seperti apa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini mesti Mba Fanny stay di Manila lebih dari sehari deh kayaknya, aku sehari di sana belom bosen, tapi kayaknya emoh kalau lama-lama, berasa lagi berperang di tanah abang hahahaha.

      Delete
  2. Aku ngrasain kek gitu waktu di inggris di brighton makanya aku milih tidur dan dengerin semua suara alam trus ketiduran dan seger lagi

    Gepeng
    -nama yang paling sering disebut di blog ini-

    ReplyDelete

Habis baca terbitlah senyum. Komen dong!

© Travel and Enjoy Everything with Justin Larissa • Theme by Maira G.